Andalkan Iklan Pemda, Mampukah Media Siber Lokal Bertahan?

Media siber atau yang lebih populer di telinga kita biasa disebut media online di Indonesia terus tumbuh. Hampir setiap kabupaten/kota kini ada media online lokal. Media-media online ini kalau berdasarkan data Dewan Pers tahun 2018 saja sudah mencapai 43.300. Bahkan, Tempo.co pernah menulis bahwa media massa di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia, yakni mencapai 47.000 media. Itu termasuk media siber, media cetak, televisi dan radio.

Sumber: Istimewa

Meski Dewan Pers memperketat syarat verifikasi media, nyatanya pertumbuhan media siber tidak terbendung. Memang tidak semuanya mampu bertahan, namun yang tumbuh selalu ada. 

Mendirikan perusahaan media siber memang tak terlalu sulit. Cukup memiliki badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT), situs/website, serta kantor redaksi sederhana. Parahnya, ada media siber di daerah yang tak punya wartawan. Jadi, dia adalah semuanya. Dia direktur perusahaan, dia pemimpin redaksi, dia editor dan dia juga wartawan yang turun ke lapangan. 

Tidak semua media massa lokal terverifikasi administrasi atau pun terverifikasi faktual Dewan Pers. Meski begitu, mereka tetap mampu eksis dan mendapatkan profit dari iklan. Di daerah-daerah di Indonesia, mayoritas pendapatan media massa adalah dari iklan Pemerintah Daerah (Pemda). 

Iklan-iklan yang dipublikasikan sih tidak begitu penting. Terkadang hanya aktifitas kepala dan wakil kepala daerah, DPRD atau kepala dinas. Ada juga yang berbentuk banner imbauan serta berbentuk berita pariwara. 

Iklan-iklan dari sektor swasta sangat minim di daerah. Kalau dipersentasekan, mungkin hanya 0,5 Persen saja. Selebihnya ya iklan dari Pemda yang terdiri dari kepala daerah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). 

Ancaman Media Official Pemda dan Medsos

Perkembangan teknologi informasi saat ini, mendorong semua Pemda memiliki website official dan akun media sosial sendiri. Ini menjadi ancaman juga bagi media massa di daerah. Pasalnya, ada kepala daerah yang meminta publikasi kegiatan kepala dan OPD hanya ditampilkan di media official milik Pemda. 

Ada benarnya memang. Beriklan di media massa lokal, terlebih media siber lokal kadang tak berdampak signifikan. Soalnya, kunjungan (traffic) website media siber lokal yang rendah juga karena kontennya terkadang sama saja dengan media siber lainnya di daerah tersebut.

Traffic media siber di daerah banyak didatangkan dari media sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Jarang sekali ada media lokal yang paham dengan Search Engine Optimization (SEO). Fokus mereka tentu saja mengisi konten dan tak paham SEO. Makanya traffic organik dari mesin pencari sangat minim. Pendapatan dari Google AdSense dan situs periklanan digital lainnya tidak begitu berdampak. Apalagi AdSense cenderung memberikan value bagi situs yang mendatangkan pengunjungnya dari traffic organik. Bukan dari medsos. 

Untuk tetap bertahan, pekerja media-media massa lokal ini harus memiliki pekerjaan lain selain sebagai wartawan. Terlebih pada masa pandemi covid-19, banyak anggaran publikasi dari Pemda dipangkas. 

Harus Berinovasi

Media online lokal harus berinovasi untuk tetap mampu bertahan. Mereka harus memiliki profit alternatif atau sumber selain iklan dari Pemda. Google AdSense mungkin bisa dipertimbangkan. Apalagi kini sudah ada platform periklanan digital yang dikhususkan bagi media yang terverfikasi Dewan Pers, Tadex.  

Membangun kanal Youtube dan memonetize-nya juga salah satu solusi, meski tidak mudah. Kemudian, inovasi lainnya yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman adalah hal mutlak yang harus dilakukan media lokal untuk bertahan. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
Opini